//
you're reading...
budaya dan pariwisata

PESONA DESA WISATA MANTAR

Pemandangan Kec.Seteluk dari Desa Mantar(6/4) Pagi menjelang siang namun matahari sudah demikian teriknya, kami dan rombongan dalam perjalanan menuju Desa Mantar. Desa yang beberapa waktu telah ditetapkan oleh Bupati Sumbawa Barat sebagai Desa Budaya  yang merupakan salah satu destinasi pariwisata yang ada di Kab. Sumbawa Barat. Sebenarnya perjalanan penulis kali ini adalah suatu kebetulan yang begitu pas dengan momentnya. Karena selain berniat untuk sedikit meredakan ketegangan juga penasaran dengan pesona Desa Budaya ini. Penulis diajak untuk menghadiri Ritual Bayar Nazar salahsatu anggota keluarga seorang teman yang telah sembuh dari sakit yang telah dideritanya selama bertahun-tahun. Mereka berniat untuk melakukan ritual tersebut ke salah satu sumur yang ada di Desa Mantar yang konon katanya merupakan lokasi keramat yang umum digunakan oleh peziarah-peziarah yang memiliki hajat dan ritual tertentu.

Dengan membawa perlengkapan layaknya ritual adat sederhana, kami berangkat dengan menumpang mobil Ranger, alat transportasi daerah terpencil yang merupakan bantuan dari Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal untuk daerah-daerah yang masih sulit untuk dijangkau dengan alat transportasi biasa. Mobil ini diserahkan pengelolaannya kepada Desa Mantar oleh Bupati Sumbawa Barat melalui Dishubkominfo KSB. Desa Mantar merupakan salah satu Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Poto Tano yang letaknya berada di ketinggian 630 Meter dari permukaan laut, sehingga  Desa ini berhawa sejuk dan dingin. Bergegas kami menaikkan muatan kami yang lumayan banyak itu ketika ada rombongan penumpang lain yang akan naik. Tentu saja agar kami semua dapat kebagian tempat duduk. Rasa-rasanya tak mungkin bila harus bergelantungan diatas mobil itu melihat jalur dan medan menuju Desa ini yang sangat ekstrim dan curam dimana jurang-jurang yang dalam disepanjang tepi  jalannya.

akses jalan dengan kondisi menanjak dan batu-batu lepas

Mobil tumpangan kami bergerak meninggalkan Desa Tapir ketika penumpang terakhir seorang penjual ayam kampung dari Desa Senayan itu meloncat dan duduk lesehan di lantai mobil yang sarat dengan barang2 kami dan penumpang lainnya. Karena ini adalah untuk pertama kalinya penulis melihat langsung Desa Mantar, penulis cukup dibuat ngeri dengan kondisi jalan yang masih berupa jalan pengerasan dan banyak sekali batu-batu lepas yang berserakan di sepanjang jalan. Tak jarang penumpang harus terguncang-guncang tubuhnya ketika melintasi jalan yang terkadang terdapat lubang yang cukup dalam bahkan ditanjakan yang tinggi sekalipun  sehingga sesekali terdengar beberapa penumpang berzikir memohon keselamatan hingga sampai ditujuan. Tak heran karena sebelum-sebelumnya akses jalan ini ditempuh dengan menumpang kuda bahkan berjalan kaki, terbayang susahnya warga Desa ini memasarkan hasil pertaniannya atau sekedar berbelanja memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan mereka ke desa-desa lainnya jika tidak ada akses transportasi yang masuk ke daerah ini. Pemandangan wilayah Kecamatan Seteluk dan Gili-gili yang ada disekitar Pelabuhan Poto Tano dari atas Desa ini memanjakan mata kami dengan pesona alam yang indah dengan hiasan awan-awan putih dan birunya laut Selat Alas.

IMG_3760Kami disambut dengan hawa pegunungan yang sejuk ketika memasuki Desa ini, deretan rumah-rumah panggung di kanan kiri jalan hampir serupa dengan desa-desa lainnya yang ada di Kab. Sumbawa Barat ini. Setelah menemui Kepala Desa dan Ketua Adat Desa Mantar untuk meminta izin melaksanakan hajatan ritual Bayar Nazar kami langsung menuju ke lokasi sumur yang sering dijadikan tempat melaksanakan ritual-ritual semacam ini. Nama lokasi itu yaitu “Ai Mante”, konon katanya sumber mata air kenamaan ini tak pernah kering sepanjang musim bahkan di musim kemarau sekalipun. Ritual dimulai dengan melemparkan beras kuning dan mantra-mantra yang dibacakan oleh tetua adat dari keluarga yang di percaya untuk memimpin acara adat semacam ini. Umumnya seperti  ritual-ritual bayar nazar di daerah lain, dalam adat Suku Sumbawa juga melakukan ritual Mandi bagi orang yang ingin membayar Nazar mereka. Air yang digunakan tentu saja air dari mata air “Ai Mante” ini. Di Desa ini masih banyak dilakukan ritual-ritual adat semacam ini karena kepercayaan mereka kepada leluhur pendahulu mereka begitu kuat sehingga mereka tetap melestarikan kebiasaan-kebiasaan adat dan semangat gotong royong bagi sesama.

ROmbongan masih disibukkan dengan beberapa rangkaian ritual ketika penulis mencoba menjejaki sejarah berdirinya desa ini dengan mengelilingi beberapa sudut desa dan sedikit berbincang-bincang dengan warga. Keramahtamahan mereka dalam menyambut tamu yang mengunjungi desanya serta beragamnya keunikan yang ada di desa ini layak menjadikan desa ini sebagai desa budaya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

April 2013
S S R K J S M
« Mar   Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Statistik Blog

  • 18,524 dilihat
%d blogger menyukai ini: