//
you're reading...
Uncategorized

Dyslexia : kesulitan belajar pada anak

(23/9) Penulis sedang mengisi waktu luang diakhir minggu dengan membuka-buka koleksi film yang ada di memory PC dirumah. Ketemu satu film India (Penulis hobby nonton film genre apa aja selama film itu menarik untuk ditonton dan pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh penonton-red), judulnya TAARE ZAMEEN PAR. Bercerita tentang seorang anak laki-laki yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis atau lazim disebut Dyslexia. Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar (Wikipedia-red)

Dikisahkan dalam film ini bagaimana menderitanya dia dengan keterbatasannya akan membaca dan menulis, padahal ia tumbuh layaknya anak-anak lain seusianya yang juga melalui proses yang sama dalam mempelajari sesuatu. Namun, kesulitannya ini tak terbaca oleh kedua orang tuanya. Orang tuanya menganggap ia anak pemalas dan tidak memiliki inisiatif dalam belajar bahkan cenderung nakal sehingga ia disekolahkan di sekolah berasrama yang jauh dari kedua orang tuanya. Dia mulai terbantu saat ada seorang guru yang dulunya juga memiliki keterbatasan seperti dirinya. Tapi karena segera diatasi dan setelah melalui proses yang lumayan panjang, sang guru akhirnya bisa terlepas dari kesulitannya dalam membaca dan menulis. Melalui gurunya inilah, anak laki-laki tadi menemukan kembali kepercayaan dirinya untuk belajar kembali hingga ia terlepas dari kesulitannya itu.

Pesan yang ingin disampaikan oleh film ini yaitu bahwa setiap anak dilahirkan dengan keunikan yang berbeda-beda. Hendaknya setiap orang tua mampu dalam memilah dan menilai setiap permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak mereka secara obyektif. Mereka (anak-anak-red) juga tidak ingin terlahir dengan segala keterbatasan yang mereka memiliki. Oleh karena itu kita sebagai orang tua harus tetap memberi dukungan dan memotivasi mereka baik pada kelebihan ataupun kekurangan yang mereka memiliki. Biarkan mereka tumbuh dengan alami tanpa campur tangan dan ambisi orang tua yang cenderung memaksa anak-anak mereka untuk berkompetisi dalam kehidupan mereka. Mereka akan siap dengan sendirinya menghadapi kehidupan mereka tanpa harus dipaksa-paksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Bentuk motivasi yang diberikan tak hanya berupa kata-kata, saran atau pun kritik namun juga ungkapan kasih sayang berupa pelukan, ciuman dan pujian dapat menjadi penyemangat bagi mereka yang memang sedang belajar dan mengukir sejarah di kehidupan mereka sendiri maupun orang lain.

Fenomena yang kita lihat sekarang ini dimana orang tua cenderung memberikan didikan yang salah pada anak-anak mereka. Orang tua cenderung menuruti apasaja keinginan sang anak tanpa mau tahu apakah yang mereka berikan itu bermanfaat atau malah cenderung merugikan bagi anak-anak mereka. Belum lagi dengan masih banyaknya  anak-anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga baik kekerasan fisik maupun mental.

Anak-anak kita adalah harta tak ternilai yang dititipkan Allah kepada setiap orang tua. Hendaknya kita mensyukuri anugerah ini dengang memberi mereka didikan yang baik dan bekal moral yang dapat menjaga mereka dari kejamnya dunia. Pendidikan anak-anak yang pertama berada pada orang tua, kemudian lingkungan keluarga hingga pendidikan disekolah. Adalah tidak bijak bagi kita jika kita menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak kita pada guru-guru mereka disekolah. Semoga dapat menginspirasi kita sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita hingga nantinya dapat menjadi amal jariyah bagi kita di dunia yang lebih kekal nanti, amin!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2012
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Statistik Blog

  • 18,524 dilihat
%d blogger menyukai ini: