//
you're reading...
Uncategorized

KEPALA DESA PERTAMA DESA MATAIYANG DILANTIK

Image(30/4) Tercatat pertama kali dalam sejarah Desa Mataiyang, yaitu dilantiknya Kepala Desa Definitif Pertama, Khairul, setelah melalui proses pemilihan Kepala Desa oleh warganya. Pelantikan dilaksanakan di halaman kantor Camat Brang Ene dan disaksikan oleh warga Desa Mataiyang dan para pejabat Pemerintah Daerah Kab. Sumbawa Barat. Khairul, dilantik sebagai Kepala Desa Mataiyang oleh Wakil Bupati Sumbawa Barat, Mala Rahman.

Surat Keputusan Nomor 351 Tahun 2012 tentang penghentian penjabat Kepala Desa Mataiyang yang lama, Mustafa dan pengesahan Kepala Desa Mataiyang yang baru, atas nama Khairul dibacakan dihadapan hadirin sebelum pembacaan Sumpah Jabatan. Acara dihadiri juga oleh Ketua Gerakan Organisasi Wanita KSB, Ketua Penggerak PKK KSB dan Ketua Dharma Wanita KSB. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sumbawa Barat, Mala Rahman mengatakan bahwa Desa Mataiyang adalah Desa pemekaran dari Desa Kalimantong Kecamatan Brang Ene. Dengan lokasi yang cukup terpencil jauh dari ibukota Kabupaten, Taliwang, Mataiyang menjadi salah satu desa dengan kondisi jalan yang medannya cukup berat untuk dilalui. Kini dengan disahkannya Desa Mataiyang sebagai desa definitif maka tidak menutup kemungkinan untuk perluasan hasil-hasil pembangunan hingga ke desa ini.

Desa Mataiyang memiliki banyak sekali sumbu-sumbu ekonomi yang belum terorganisir dengan baik untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warganya. Desa ini merupakan penghasil Kayu Rotan yang banyak di ekspor ke daerah-daerah lain seperti jawa dan kalimantan bahkan manca negara. Rotan tumbuh dengan sendirinya di areal hutan yang mengelilingi wilayah desa ini. Pengusaha-pengusaha dari luar membawa hasil hutan ini untuk diolah dan dijual kembali dengan harga yang cukup mahal.  Selain Rotan desa ini juga menghasilkan madu asli Pulau sumbawa yang terkenal itu. Didesa ini Madu di jual pada musimnya, karena tidak semua musim lebah-lebah madu menghasilkan madu yang berkualitas. Biasanya madu bisa di panen sekitar bulan puasa dan setelah lebaran. Madu-madu ini dikirim dengan olahan tradisional tanpa melalui proses apapun dengan maksud untuk menjaga kualitas dan keaslian dari madu itu. Disamping madu, ada juga gula aren yang dibuat oleh penduduk setempat. Gula ini dibuat dari air nira kemudian diolah menjadi gula aren. Gula-gula ini kemudian dipasarkan ke desa-desa terdekat oleh warga. Hal ini disebabkan karena akses kendaraan yang sulit untuk menembus desa ini. Semakin jauh gula ini dibawa maka akan semakin mahal pula harganya.

Dengan dibentuknya Desa Mataiyang, dimaksudkan untuk memberikan pelayanan yang lebih dekat  kepada warga Mataiyang.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

April 2012
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Statistik Blog

  • 18,524 dilihat
%d blogger menyukai ini: