//
you're reading...
Uncategorized

MENJEMPUT MENTARI PAGI DI RARAK RONGES

(28/3) Kabut menyelimuti pagi di Desa Rarak Ronges, sebuah desa yang berada diujung timur Kecamatan Brang Rea Kab. Sumbawa Barat. Udara dingin terasa menggigit kulit,  mata seakan berat untuk terbuka. Sambil berkemul duduk-duduk di beranda rumah salah satu warga Desa sambil ditemani secangkir Kopi dan sepiring ubi rebus, penulis merasakan nuansa lain di desa pelosok ini. Desa ini termasuk desa yang masih terisolir karena topografi alamnya yang sulit di jangkau dengan transportasi umum biasa. Untuk mencapai desa ini, dulunya penduduk setempat memanfaatkan tenaga kuda untuk mengunjungi desa yang berada di lereng bukit. Kini telah dibuka jalur transportasi umum namun belum juga bisa dimanfaatkan maksimal karena medan yang di lalui masih cukup berat. Jalanan menanjak dan terjal menghadang di setiap jalurnya sebelum tiba di pemukiman penduduk, apalagi pada saat musim hujan jalanan yang menanjak akan sangat licin dan berbahaya. Beberapa saat yang lalu Desa ini mendapat bantuan 1 unit mobil transportasi perintis dari Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal. Namun keberadaan 1 unit mobil ini tentu saja tidak  bisa menjawab kebutuhan warga desa Rarak Ronges seluruhnya.

Penduduk Desa Rarak Ronges memiliki kehidupan yang  sangat sederhana. Mereka rata-rata adalah petani yang memiliki kebun kopi dan hasil perkebunan lainnya. Dari hasil perkebunan inilah mereka menukar dengan beras dan bahan pangan lainnya ke desa-desa sekitarnya. Mereka masih menganut sistem barter dalam perekonomiannnya. Karena untuk menjual hasil perkebunan mereka ke ibukota Kabupaten, mereka membutuhkan biaya transportasi yang tidak sedikit sehingga daripada menjualnya jauh-jauh ke ibukota Kabupaten mereka memilih untuk menukar hasil kebun mereka dengan barang kebutuhan lainnya seperti sembako dan bahan bangunan. Kebiasaan hidup bersih dan sehat belum diterapkan di desa ini karena kurangnya penyuluhan – penyuluhan kesehatan dari Dinas terkait. Setiap rumah masih sangat jarang ditemukan jamban atau kakus yang layak pakai. Mereka masih memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan mereka akan air bersih dan jamban di setiap rumah. Air minum masih memanfaatkan air sumur dengan  menimbanya dan menyimpannya di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat. Setiap rumah rata-rata memiliki gentong air di depan rumah masing-masing karena belum ada saluran air sejenis PDAM seperti di desa -desa lainnya di Kab. Sumbawa Barat.

Ada begitu banyak potensi di desa ini yang belum diolah, baik dari segi pariwisata maupun potensi kekayaan alam yang dimilikinya. Salah satunya Dari sektor Pariwisata, terdapat Gua Mumber dimana gua ini termasuk gua terbesar di Kab. Sumbawa Barat yang kaya akan stalagtit dan stalagnit indah di dalamnya. Selain itu juga terdapat air terjun yang tak kalah indahnya dengan air terjun lainnya di Kab. Sumbawa Barat, dengan pemandangan alam pegunungan yang masih perawan belum terjamah tangan usil. Di Sektor perkebunan, daerah memiliki kopi yang berkualitas tinggi. Kopi ini biasanya disebut Kopi Luwak. Kopi ini terkenal lezat karena rasanya yang khas dan cara pengolahan yang alami dan tidak mengandung pengawet. Masih banyak potensi potensi lain di daerah ini yang dapat menunjang peningkatan ekonomi penduduk setempat yang menunggu untuk dikembangkan. Pagi di Rarak Ronges tak akan terasa menusuk lagi seiring senyum yang tertebar dari penduduk yang kehidupannya makmur dan sejahtera.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Statistik Blog

  • 18,524 dilihat
%d blogger menyukai ini: